Kamis, 01 September 2016

Puisi Niko Ardila Masoka: Mawar Tak Bertuan



Mawar Tak Bertuan

Malam menawan tawamu
Malam memanggil manjamu
Karena malam, besarlah jiwamu
Di tepi malam ragamu tersembunyi

Aromamu memabukkan hayal
Corakmu menembus keinginan
Langkahmu membius keinginan
Kau bukanlah anggur di akhir pelarian

Simfonimu sejukkan kecurangan
Walau berduri kau tetap menawan
Kaulah pujaan yang tersembunyi
Indah wajahmu mawar tak bertuan

Puisi Igir Al Katiri: Kali Got Dok Delapan



Kali Got Dok Delapan

Semua perih di hati ini kuceritakan padamu
Semua kecewaku hanyut bersama gemericik airmu hingga ke laut
Semua lukisan murung wajah ini pudar saat kita saling bersentuhan
Semua gunda gulana jiwaku sirna terkikis riak bening mengalir dari mata airmu 

Oh…Kali Got Dok Delapan
Semua gelisah yang berkecamuk dalam dada luluh di sejukmu
Semua kegetiran dari tetes airmata karena penyelewengan kekasih,
kutumpahkan di atas bibir kalimu
Semua luka karena duri-duri cemburu                       
perih tiada tertahan
hilang sudah di balik sejuk kehangatanmu                 
saat datang dini hari
Semua kekhawatiran yang sempat merisaukan 
berjuta kemarau panjang dari suara suara jerit tak puas 
karena kekurangan air bersih bersama wajah buruk PDAM 
musnah tergantikan oleh airmu

Oh… Kali Got Dok Delapan
Izinkan Aku memanggilmu Kekasih saat memujamu dalam sebutan kata cinta.

Dok Delapan Dini Hari, 07/07/2006, “Dialog Jiwa.”

Puisi Igir Al Katiri: Angeline



Angeline

“Siapa kehilangan rasa cinta dalam hati dan membiarkan arogansi emosional menguasai diri hingga para anak menjadi korban atas kebiadaban ulahnya sesungguhnya ia telah kehilangan rasa kemanusiaan dalam jiwa bagi kasih sayang”

Langit Indonesia berhitam mendung dalam koyak airmata berparas duka

Pilu kepedihan getarkan dada bagaikan bening airmata
yang mengalir gersang di atas pipi terkoyak luka

Ibu pertiwi wajahmu terlihat murung bermake up pilu tragedi yang membanjir terpeluk sesal

Kenyataan yang mengharu biru ini memporak porandakan setiap tarikan nafas dalam  jiwa

Bumi nusantara terguyur hujan dari banjir tangis
yang menenggelamkan arti senyum di raut wajah

Kebiadaban, merdekalah dalam kemenangan
di antara linangan kaum papa negeri ini

Kekuasaan, terbahaklah di setiap keinginan
hingga bumi ini runtuh bersama kalahnya kaum lemah

Kekerasan, berkuasalah engkau hingga tameng perlindungan anak hanyalah terlihat dan terbaca dalam gambaran manis undang-undang di atas kertas akan tetapi implementasinya begitu semu terbalut kenyataan hampa

Wahai keculasan, merajailah engkau di pelukan ingkar hingga akhirnya harapan kami pupus bersama kecewa

Wahai kemiskinan, kami mendengar penindasan tentangmu akan tetapi negeri ini kepayahan dalam menggapai pertolongan

Wahai cinta, menangislah engkau bersama pudarnya kasih sayang di benak manusia yang terdegradasi moral keserakahan

Wahai kasih sayang, benarkah di ladang hatimu tak lagi subur tumbuhkan kemesraan di pelukan rindu bagi sesama hingga terkesan kebutaan kepentingan membuatmu rabun?

Oh keadilan, haruskah dirimu sungguh tak adil di hadapan kaum lemah hingga kesewenang-wenangan akrab berkuasa ?

Oh hukum negeriku, mengapa terkadang taringmu sungguh ompong kepayahan terhadap rakyat kelas sendal jepit saat engkau dibutuhkan ?

Oh kebingungan, haruskah segudang tanya dibiarkan terlantar sia-sia di antara selubung kematian anak manusia yang tak terungkap nyata ?

Angeline, kami mengirimkan jeritan duka cita dari langit timur nusantara di antara senandung tangis cendrawasih penuh hangat kasih sayang dan cinta untukmu

Angeline, prahara penganiayaan yang merampasmu dari rangkul kehidupan kan selalu menyita setiap bening airmata di benak jiwa untuk dikenang

Angeline, wajahmu laksana kembang teduh nan indah yang tergusur oleh badai kebiadaban sebelum datangnya wangi mekar di jantung keremajaan

Angeline, setiap ingatan tentangmu adalah tenggelamnya kekecewaan di dasar lautan perasaan terdalam tentang arti kepedihan nan malang anak manusia

Angeline, setiap aksara yang mengandung makna di puisi ini kesemua itu laksana kembang duka yang kutaburkan mewangi di atas pusaramu berselimutkan doa-doa dari jiwa-jiwa yang penuh cinta untukmu

Tuhan terimalah anak kami Angeline di sisi-Mu tempat di mana surga kebahagiaan dan kedamaian jiwa saling bercinta abadi.

Pertapaan Jiwa, 16/06/2015, “Hati Melara.”

Puisi Igir Al Katiri: Jika Cinta



Puisi-puisi Igir al-Qatiri

Jika Cinta 3

Jika cinta itu seni
            setiap inspirasi adalah keindahan yang menjerat
            pandangan mata terantai kagum
Jika cinta itu keindahan
            setiap senyuman adalah gambaran
            diri yang terlukis di potret wajah
Jika cinta itu rindu
            setiap belenggu adalah hasrat yang menyiksa bathin
Jika cinta itu adalah kasih sayang
            setiap langkahnya menyimpan hingar kemesraan
Jika cinta itu adalah pandangan pertama
            setiap keterkejutannya menyimpan daya tarik
            dari getaran rasa berpeluk hikmat
Jika cinta itu adalah janji
            seharusnya setiap lafadz yang tercipta berbuah          
            kejujuran tanpa pernah busuk berbau gejolak  dusta
Jika cinta itu adalah api
            setiap percikannya menyimpan kehangatan    
            dari membara kobar kesetiaan tanpa pernah   padam
Jika cinta itu adalah cinta
            setiap nada rindu yang mengalun dalam melodi          
            jiwa kan membimbing kesetiaan menuju reff  kasih sayang
Jika cinta itu kecemburuan 
            setiap kasih sayang adalah kekhawatiran yang            
            terpanggang    di atas bara kecemasan
Jika cinta itu adalah duka
            setiap airmata yang mengalir mengisaratkan   
            kegetiran bermendung hati yang terluka
Jika cinta itu adalah rahasia kebisuan
            sungguh betapa lemahnya makna kejujuran yang terpenjara
Jika cinta itu adalah alkohol
            maka setiap kalimat yang terucap akan sulit   tergapai kebenarannya
Jika cinta adalah puisi
            telah ku pilih semua abjad terbaik                   
             menjadi kalimat suci                                        
            saat mengungkapkan keberadaannya bernafas       
            makna keindahan dalam sujud kesakralan       
            karena ia percikan api seni yang bergemuruh di atas kanvas aksara
Jika cinta itu adalah ajal
            kuingin pergi dengan keheningan wangi yang             
            bercerita tentang kemesraan di batu nisan       
            beraksara keabadian yang tak pernah layu           
            terputus takdir tentang namaku
Jika cinta itu adalah Papua
            semoga saja semua airmata di bumi cendrawasih       
            kan berubah menjadi tsunami 
            siap menenggelamkan nyawa para pejabatnya yang    
            korup di atas kemegahan ranjang berbinal keserakahan.

Pertapaan Jiwa, 13/ 12/ 2011, “Warna-warni Cinta.”