Senin, 01 Agustus 2016

Cerpen: Victoria Wakum karya Ria Sari KA (2)


Victoria Wakum (2)
Ria Sari KA

Suara gong terdengar menggema ke seluruh area gedung, pertanda pertandingan dilanjutkan.
Victoria telah bersiap-siap memakai body protector dan menunggu masuk bersama wasit ke dalam gelanggang.
Lawannya terlihat di sudut lain. Sebelum masuk gelanggang, Victoria diam-diam berdoa sesuai dengan agamanya. Hal itu terlihat oleh banyak pesilat di bagian atas tribun, juga seluruh pelaksana pertandingan.
“Apa yang dia lakukan?” tanya salah satu pesilat perempuan dari atas tribun kontingen Sentani yang bersebelahan dengan kontingen Victoria. Siti yang terdengar itu mulai khawatir. Tapi dia berusaha tenang, dan hanya mendengar orang-orang di sekitarnya saling berkomentar.
“Jadi gadis itu Nasrani?” tanya salah satu pesilat dari kontingen Sarmi. Siti melihat mereka semua tampak kaget.
“Saya tidak sangka. Kita semua tertipu oleh jilbabnya,” tutur Alfisyar.
Dari kejadian itu, kemudian timbul desas-desus identitas Victoria. Ditambah lagi kata-kata Alfisyar yang nadanya semakin memanaskan suasana.
Pertandingan pun dimulai. Setelah melakukan salam tapak suci, wasit pun memberi aba-aba mulai. Victoria dan lawannya segera memasang sikap. Tak seperti di awal, kini Victoria langsung mendekat dan menyerang. Ia melepaskan serangan kaki berkali-kali disusul serangan tangan.
Lawannya dari sudut biru pun membalas beberapa serangan kaki yang berhasil di tangkis Victoria. Tiba-tiba lintasan serangan lawannya mengarah keatas, mengenai bibir Victoria, hingga berdarah. Wasit menghentikan pertandingan dan memisahkan mereka.
“Aaaa...” suara Victoria yang sedikit terdengar meringis saat tim medis menyuruhnya membuka mulut setelah berkumur. Bibir dan rahangnya luka sehingga banyak mengeluarkan darah.
Dengan mata berkaca-kaca dan merah menahan sakit, Victoria mulai kembali melanjutkan petandingan. Wasit pun memberi teguran satu kepada lawannya, dan mengurangi 5 poin di pihak lawan. Setelah wasit memulai pertandingan kembali, Victoria mengulur waktunya dengan berputar-putar tanpa serangan.
Tapi lawannya melancarkan serangan tangan yang mengenai body protector Victoria, disusul serangan kaki. Kali ini Victoria dengan sigap menangkapnya dan langsung membanting sehingga merobohkan kuda-kuda lawan. Wasit pun menghentikan pertandingan dan memulainya kembali.
Victoria mulai mendekati lawan dengan serangan tangan, disusul serangan kaki. Keduanya merapat. Saat itu terjadi hal yang tak terduga oleh Victoria. Lawannya melakukan serangan patahan yang menggunakan alat penyasar siku ke arah lintasan bawah. Serangan itu mengenai lutut kanan Victoria, yang langsung terjatuh ke lantai karena mengenai sendinya.
“Aaaaaa.” Lagi-lagi Victoria berteriak refleks. Rasa sakit langsung menjalar di bagian pahanya. Karena posisi yang sangat rapat dan membelakangi ketua pertandingan, insiden itu sepintas tidak tampak. Pada saat mendengar teriakan itulah juri dan wasit bertanya-tanya kejadiannya. Tim medis kembali dipanggil untuk menanganinya.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Pak Altaf khawatir.
“Dia melakukan serangan pelanggaran, Pak. Serangan patahan,” papar Victoria dengan suara lirih sambil menahan sakit.
Dalam Tapak Suci, ada tiga serangan yang tidak diperbolehkan karena membahayakan lawan, yaitu cengkeraman, patahan, dan gigitan. Jika dalam pertandingan, pesilat melakukan serangan itu, maka dianggap pelanggaran dan bisa mengurangi nilai.
“Sendi paha yang berhubungan dengan sendi lututnya memar. Warnanya kebiruan,” kata dokter. “Saya bisa sarankan kepada juri agar pertandingan tidak dilanjutkan jika Bapak mengiginkan.”
Pak Altaf menimbang. Ia tidak mungkin begitu saja memutuskan menghentikan pertandingan Victoria yang telah membanggakannya dengan segala usahanya. Namun di sisi lain, dia juga jauh lebih mengkhawatirkan kondisi Victoria.
“Baiklah, hentikan pertandingan. Saya ingin pesilat saya mundur,” tegas pak Altaf.
“Tidak! Saya mampu. Saya tidak akan mundur hanya karena mengalami cedera ini,” kata Victoria meyakinkan.
“Tapi itu membahayakan dirimu, Victoria,” kata Pak Altaf.
“Tolong beri saya kepercayaan, Pak. Saya bisa melanjutkan pertandingan.”
Mendengar keputusan Victoria, maka pertandingan akan tetap dilaksanakan. Hal itu sangat mengagetkan lawannya yang berada di sudut biru.
Victoria berjalan terpincang-pincang. Lawannya memanfaatkan kondisi itu dengan mengambil kesempatan menyerangnya. Namun ketika lintasan serangan tangan dilayangkan, tiba-tiba suara peluit dibunyikan sebagai pertanda usainya pertandingan ronde pertama.
Dengan menyelonjorkan kaki sambil berkumur-kumur, Victoria melihat ke arah pelatihnya. Sorotan mata pak Altaf yang tajam mengarah kepadanya, tersirat sejumlah makna yang dapat dipahami oleh Victoria.
“Pesilat.” Suara wasit memantul ke seluruh gedung yang memecahkan riuh peserta, pendukung, dan juga pesilat yang berasal dari masing-masing kontingen. Wasit telah memulai pertandingan.
Victoria pun memasang kuda-kuda yang tak lagi kokoh sambil tetap melangkah ke arah lawan. Dengan cepat lawan menyerang dengan serangan kaki yang mengarah ke rusuk kiri. Victoria langsung mengelak. Ia bahkan menangkap lawannya, lalu dibanting dengan serangan jatuhan. Wasit menghetikan, dan memulainya kembali.
Meski Victoria merasakan sakit yang luar biasa, kelihaian dan kecepatannya ternyata tidak luntur.
Keduanya merapat dan serangan tangan berkali-kali dilayangkan Victoria sehingga tak memberi celah bagi lawan untuk menyerang. Victoria terus melancarkan serangan tangan, disusul serangan kaki, dan diakhiri dengan serangan kedua tangannya dengan lintasan uluh hati hingga lawannya terjatuh.
Lawannya mulai geram. Emosinya semakin tak terkendali. Ketika aba-aba mulai dinyatakan wasit. Lawan melangkah dan langsung melakukan serangan harimau. Sayangnya, serangan itu tidak terjangkau mengenai body protector. Kesempatan itu diambil Victoria dengan tusukan serangan tangan yang bertubi-tubi.
Spontan serangan Victoria dibalas dengan tendangan lawan mengarah ke kaki kanan Victoria yang cidera dengan alat penyasar punggung kaki lawan.
Peluit dibunyikan seirama dengan teriakan Victoria yang semakin meringis menahan sakit. Ronde kedua telah berakhir.
Ketua pertandingan memberi pengumuman yang disambut riuh penonton, terutama dari tribun Kontingen Abepura.
“Pertandingan partai putri babak final dimenangkan oleh Victoria Wakum dari Kontingen Abepura.”
Setelah melepaskan body protector yang dia gunakan, Victoria pun berjalan kembali ke tribun kontingennya. Sesampainya di tribun kontingen Siti menyambutnya dengan pelukan.
“Lihat Victoria, semua pesilat dari berbagai kontingen melihat ke arahmu!” ujar Siti kepada Victoria. Sorotan itu dianggap Victoria wajar karena kemenangan yang diperolehnya. Padahal dia keliru. Semua tatapan tajam yang mengarah padanya bukan karena kemenangan, tapi karena kepercayaannya sebagai seorang Nasrani.
“Selamat! kau berhasil membuktikan kemampuanmu,” ujar Pak Altaf diikuti rasa haru dari raut wajahnya.
Zona bahagia telah menyelimuti kontingen Abepura dengan kemenangan yang diraih beberapa atletnya. Salah satunya Victoria. Namun di sisi lain desas-desus mengenai indentitas Victoria seorang Nasrani telah terdengar hingga ke telinga juri.
Tradisi Tapak Suci begitu kental dengan nuansa Islam sejak perkembangannya di daerah Jawa. Hal itu membuat pelaksanaan pertandingan Tapak Suci dalam rangka kejuaraan invitasi silaturahim tidak mengikutsertakan non-muslim di ajang pertandingan. Meski tak ada peraturan secara tertulis.
“Setelah usai pertandingan hari ini diharapkan seluruh wasit segera berkumpul di ruang panitia,” ujar Juri Ketua Panitia yang berkumis tebal melalui pengeras suara.
Pertemuan tersebut membahas beberapa agenda untuk besok, termasuk nama-nama yang keluar sebagai pemenang pun telah didata serta dikirim melalui email ke Pimpinan Pusat sebagai laporan seluruh kegiatan yang telah terlaksana di Papua.
***
Keesokan harinya, seluruh pesilat dari masing-masing kontingen pun mulai berbaris seperti saat pembukaan pertandingan. Acara penutupan yang dijadwalkan pun mulai dilaksanakan.
Walau seluruh badan Victoria terasa remuk akibat kejadian yang dilaluinya kemarin, dia tetap berjalan dengan kegembiraan dan tidak menampakkan rasa sakit.
“Wah, sebentar lagi kamu akan melakukan prosesi penyerahan piala pertama pertandingan terbesar perguruan kita di gedung ini, Victoria,” tutur Siti dengan raut gembira menjelang pengumuman pemenang.
Aku tidak menyangka akan memperoleh piala pertama,” pikir Victoria dengan raut wajah berseri-seri.
Kontingen Abepura memperoleh juara umum I pesilat terbaik Kejuaraan Invitasi Silaturahim tahun ini. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman perolehan juara per-individu. Dimulai dari kontingen Koya Barat dan diakhiri kontingen Abepura. Satu persatu nama pemenang telah disebutkan dari pesilat putra maupun putri.
“Victoria Wakum dan …,” kata juri mengumumkan pemenang, yang mendadak dipotong oleh teriakan.
“Dia bukan pemenang!” teriak salah satu pesilat. “Bagaimana mungkin seorang Nasrani keluar sebagai pemenang. Dia tidak pantas!”
Mendengar pernyataan itu, seluruh wasit maupun juri kaget dan kebingungan.
“Dia tidak layak ikut dalam ajang  Kejuaraan Invitasi Silahturahim ini,” lanjut pesilat itu dengan wajah penuh kemarahan dan tidak terima dengan kehadiran Victoria. Semua sorot mata tertuju kepada Victoria yang sejak kemarin menjadi buah bibir peserta dari seluruh kontingen.
Desas-desus itu langsung berkembang. Pada puncaknya, para wasit, juri, dan seluruh pelatih setiap kontingen berkumpul untuk mengambil keputusan.
 “Pertandingan ini diselenggarakan sebagai syiar agama Islam, juga dakwah. Pertandingan ini bukan hanya bertujuan menyebarkan perguruan kita ke seluruh penjuru tapi juga mengokohkan ajaran Islam,” papar ketua pertandingan yang dianggap orang yang dituakan.
“Lalu bagaimana seorang Nasrani bisa menyusup ke dalam pertandingan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?” tanya pelatih Kontingen Sarmi.
“Sebelumnya saya minta maaf. Victoria adalah salah satu murid saya,” kata Pak Altaf. “Saya menyertakannya dalam pertandingan kali ini, sebab saya berpikir dia tidak ada bedanya dengan semua pesilat yang juga turut berpartisipasi.”
“Ya, lalu Anda mengelabui kami semua dengan jilbab yang Anda berikan padanya?” tanya pelatih Kontingen Merauke dengan nada sinis.
“Ini pembodohan. Seorang Nasrani tidak pantas mengikuti ajang ini. Anda seharusnya tahu itu. Kemenangan seorang Nasrani diawal akan menghancurkan akidah agama kita dan mengubah semua tradisi yang telah kita pertahankan,” lanjut pelatih Kontingen Sarmi. Tampaknya, dia masih terbawa emosi atas kekalahan Alfisyar Muamaroh.
“Berbicara mengenai kepantasan, apakah kita layak berada di sini?” tanya Pak Altaf dengan mengedarkan pandangan kepada semua yang berkumpul. “Bukankah kita yang tidak pantas berada di Tanah Salib ini? Di sini mayoritas umat Kristiani, dan saya bertahun-tahun lahir dan tinggal di sini, tak seorang pun dari mereka yang mempertanyakan kepantasan saya tinggal di lingkungan mereka.”
Hening sejanak.
“Tapi hari ini, kita berkumpul di tempat ini memperdebatkan masalah yang belum tentu mereka perdebatkan,” tandas Pak Altaf.
“Itu hanya pembelaan diri pribadi Anda saja,” sahut pelatih Kontingen Merauke.
Berbagai agurmentasi antar pelatih terus membanjiri pengambilan keputusan yang seharusnya dilaksanakan dengan musyawarah.
“Nah, ini juga kesalahan pihak pelaksana yang tidak selektif dalam menyelenggarakan kegiatan kejuaraan ini,” kata pelatih Kontingen Biak.
“Tapi, pak Altaf ini benar. Kita juga harus tahu diri dan tidak fanatik terhadap hal seperti ini. Lagi pula perguruan kita ini sudah bertaraf nasional, tapi kok masih mempermasalahkan hal seperti ini,” tutur pelatih Kontingen Sorong.
“Maksud Anda apa?” tukas pelatih Kontingen Biak.
“Sudahlah, coret saja nama anak Nasrani itu dari kejuaraan ini. Lihat saja. Gara-gara dia, kita berkumpul di tempat ini hanya untuk berdebat,” kata pelatih Kontingen Sarmi.
“Saya tidak menyangka, semudah itu Anda ingin mencoret nama pesilat saya yang telah berjuang dengan kemampuannya,” kata Pak Altaf dengan raut kekecewaan. “Jika hanya mencari kemudahan, Anda tidak pantas menjadi pelatih perguruan silat mana pun.”
Suasana semakin tegang.
“Jika keputusan akhir adalah mengangkat Nasrani itu sebagai juara, kami akan keluar meninggalkan perguruan Tapak Suci,” tegas pelatih Kontingen Sarmi yang merasa terhina dengan penyataan pak Altaf itu.
Karena semua bersikokoh dengan pendapat masing-masing di antara pelatih ataupun juri, ketua pertandingan yang berusia 70 tahun itu pun bersuara.
“Tenang, tenang. Kita di ruangan ini untuk mencari jalan keluar yang arif dan bijaksana. Bukan saling menyalahkan satu sama lain,” tutur ketua pertandingan.
“Bagaimana jika kita panggil Victoria, dan menanyakan bagaimana tanggapan dia mengenai permasalahan ini. Apabila jawaban dia memuaskan di antara kalian, maka terserah kalian nanti akan melakukan apa!” tegas Ketua Pertandingan.
Mendengar pernyataan ketua pertandingan yang paling dihormati itu, semua wasit, juri, maupun pelatih terdiam hingga kedatangan Victoria.
“Victoria, kamu memang menang dalam kejuaraan ini. Tetapi dalam peraturan perguruan ini, meski tidak secara tertulis, non-muslim masih dalam pertimbangan apakah boleh atau tidak diikutsertakan dalam lomba. Bagaimana tanggapanmu, Victoria?”
Victoria berfikir sejenak. Ia memandang Pak Altaf, lalu menjawab pertanyaan itu. “Jika memang keberadaan saya dipertanyakan, atau bahkan menimbulkan perpecahan di dalam kejuraan ini, sebaiknya saya didiskualifikasi saja. Saya mengerti.”
Jawaban Victoria membuat sebagian besar juri puas, meskipun beberapa yang lainnya tetap bersikeras bahwa Victoria diperbolehkan memegang gelar kejuaraan.
Ketua Pertandingan akhirnya mengumumkan bahwa Victoria berhak atas penghargaan itu. Di akhir pernyataannya, Ketua Pertandingan menyampaikan pesan yang tidak dilupakan oleh seluruh hadirin di gelanggang itu, “Kejuaraan Tapak Suci ini bukan saja menguji fisik dan mental kita sebagai pesilat, tetapi lebih dari itu kejuaraan ini juga menguji kejernihan hati kita untuk menerima dan menghormati mereka yang berbeda.”
***

Cerpen ini telah dimuat dalam buku Cerita dari Timur karya Dzikry el Han, dkk diterbitkan oleh Sekolah Menulis Papua, Oktober 2015.

Cerpen: Victoria Wakum karya Ria Sari KA (1)

Victoria Wakum
Ria Sari KA

“Tidak ada pesilat yang kuat Victoria,” kata Pak Altaf, pelatihnya. “Yang ada hanyalah pesilat terlatih, seperti kamu.”
Victoria masih berusaha menenangkan perasaannya. Lawan-lawan di babak selanjutnya membuat Victoria sedikit gentar.
“Pesilat yang terhebat itu tidak cukup dengan hanya memiliki fisik yang kuat saja,” tegas pak Altaf. “Tanpa latihan, kekuatan itu takkan berarti. Gunakan semua teknikmu, dan kau tidak akan sulit mengalahkan lawanmu di bawah itu,” lanjut Pak Altaf sambil melihat pesilat yang sedang bertanding di bawah area gelanggang.
“Entahlah, Pak. Fisiknya yang kuat itu membuat saya gentar,” ujar Victoria sambil menutupkan tangannya pada wajah.
“Tenanglah. Bapak yakin, berbekal teknik dan praktik yang kamu jalani selama latihan lima bulan ini sudah cukup,” ucap pak Altaf sambil menepuk pundak Victoria. “Yakinlah, latihan yang kuberikan padamu pagi dan malam takkan sia-sia.”
Victoria masih diam.
”Jika tidak bisa percaya pada dirimu, maka percayalah pada Tuhanmu,” sambung pelatihnya yang berusia sekitar empat puluh tahun itu.
Kata-kata terakhir pak Altaf ditelan riuh suara penonton yang berada di tribun atas. Namun, membahas mengenai kepercayaan sedikit membuat Victoria merasa tersindir sebagai umat beragama yang asing.
Ini semi final. Victoria merasa bahwa ini sebuah keberuntungan karena lawan sebelumnya didiskualifikasi masalah berat badan yang naik. Victoria memang beruntung karena tak perlu bersusah payah bertanding namun dapat lolos ke babak semi final. Namun di sisi lain, lawan yang dihadapi tentu lebih kuat. Sebab, mereka berhasil masuk ke babak final setelah meraih kemenangan dengan mengalahkan lawan yang lain.
“Pertandingan selanjutnya partai ke-24 putri, dari kontingen Abepura, Victoria Wakum yang berada di sudut biru, akan melawan kontingen Sarmi, Alfisyar Muamaroh yang menempati sudut kuning, diharapkan segera bersiap-siap,” ujar juri berseragam kuning.
Persiapan dimulainya pertandingan diawali dengan masuknya wasit dan  pembantu wasit, serta kedua pesilat ke gelanggang pertandingan secara bersama-sama. Di sudut biru ditempati Victoria dan di sudut kuning ditempati lawannya, Alfisyar Muamaroh.
Tatapan Victoria menjuru ke seluruh area pertandingan. Jalannya perlahan-lahan, kaku bagaikan robot. Ia maju tanpa ekspresi wajah yang mencolok.
Ketika terdengar aba-aba masuk, Victoria dan lawannya menuju tengah arena, berdiri berjajar dengan wasit. Mereka berjabatan tangan, kemudian kembali pada garis pesilat.
Pada aba-aba siap, mereka melakukan salam tapak suci, tradisi yang  dilakukan sebelum memulai pertandingan antar pesilat. Victoria tak lagi tampak kaku melakukan salam itu seperti awal dia latihan silat dulu. Dengan lihai, kini salam dia lakukan penuh penghayatan serta menyiratkan makna pada setiap gerakannya. Sehingga seolah dia terlihat sudah bertahun-tahun di perguruan silat. Padahal Victoria bahkan belum masuk sebagai siswa dasar yang merupakan tingkatan awal seorang siswa di perguruan pencak silat.
Pada aba-aba pasang, wasit menyatakan pertandingan dimulai, disertai tanda gong dari pengatur waktu. Victoria dan Alfisyar mulai dengan sikap awal, sikap pasang yang mengambil kaidah seni memancing lawannya untuk menyerang.
Aba-aba mulai diulang oleh wasit. Victoria memasang sikap awal. Sedangkan Alfisyar tampak mulai geram dengan sikap Victoria yang selalu menghindar. Tanpa menunggu dan berputar-putar di arena gelanggang lagi, Alfisyar langsung menyerang dengan pukulan ke arah body protector Victoria.
Dengan refleks, gadis berdarah Serui itu menghindar dan langsung melayangkan tendangan dengan lintasan ke arah rusuk kiri Alfisyar, dilanjut dengan pukulan katak kembar menyasar dada lawan.
Dengan pukulan itu, Alfisyar langsung terhempas beberapa langkah ke belakang.Victoria mengakhiri serangan beruntun itu dengan tendangan harimau membuka jalan dengan lurus menyasar dada. Alfisyar benar-benar terhempas, jatuh ke lantai daerah dalam garis.
“Henti!” kata wasit mengakhiri serangan dan memisahkan mereka.
Setelah bangun dari serangan Victoria, Alfisyar kembali memasang sikap awal dan memperkokoh kuda-kudanya. Serangan tak terduga yang Alfisyar dapatkan dari Victoria membuatnya lebih hati-hati.
Wasit memulai kembali pertandingan, kali ini Victoria lebih terlihat tenang. Ia bisa dengan mudah fokus ke gerakan lawan. Ketika keduanya mendekat, Vitoria melakukan serangan tangan katak kembar dan spontan dihindari lawannya dengan langkah segitiga ke arah kiri.
Namun Victoria masih berlanjut mengejar Alfisyar dengan tendangan ikan terbang yang menyasar ulu hati, tepat mengenai body protector, disusul pukulan katak. Alfisyar membalasnya dengan tendangan yang mengenai rusuk kiri Victoria, disusul katak berkejaran yang mengenai body protector.
Victoria tetap maju. Rasa gentar yang tadi membelenggu, sekarang sudah tak bersisa. Victoria mampu mengakhiri pertandingan itu dengan guntingan yang berhasil merobohkan kuda-kuda Alfisyar. Tangan Alfisyar menyentuh matras sambil menopang tubuhnya. Victoria pun berhasil memperoleh poin terbesar dalam serangan.
Seketika pertandingan dihentikan wasit. Mereka dipisahkan. Pada saat wasit ingin memulai kembali pertandingan, “Priiitttttttttttt...” juri menghentikan pertandingan yang sudah berlangsung dua menit, yang terhitung satu ronde. Victoria dan Alfisyar pun dipisahkan. Mereka menempati sudut masing-masing dengan jeda istirahat satu menit.
Alfisyar dari sudut kuning tampak sulit mengatur pernafasannya yang tak beraturan. Sebaliknya, Victoria tampak begitu tenang. Waktu istirahat pun habis ditandai dengan bunyi peluit. Victoria dan Alfisyar dipersilahkan wasit untuk berdiri.
Sambil memperkokoh kuda-kudanya, Victoria lagi-lagi mendekat sambil memancing lawannya untuk menyerang. Alfisyar pun melayangkan pukulan sasaran ke arah dada Victoria diikuti tendangan harimau. Sigap Victoria langsung menangkap pukulan itu dengan tangkisan dan melakukan serangan jatuhan, sehingga Alfisyar jatuh dan wasit menghentikan pertandingan.
Ketika pertandingan dimulai kembali, Victoria dan Alfisyar sangat cepat melangkah dan saling mendekatkan diri  menunggu serangan lawan. Victoria melakukan serangan tangan, disusul serangan kaki yang melesat kencang mengenai body protector hingga bunyinya memantul ke seluruh ruangan. Victoria mengakhiri serangannya dengan tendangan ikan terbang menggoyang sirip, tepat mengenai body protector.
Namun, kaki Victoria langsung ditangkap Alfisyar yang ingin melakukan serangan jatuhan. Sayangnya, usaha Alfisyar gagal karena pertahanan kuda-kuda Victoria.
Setelah wasit menghentikan pertandingan, dan memulainya kembali, wajah Alfisyar tampak memerah seperti tomat.
Kali ini, baik Victoria maupun Alfisyar tampaknya lebih berhati-hati. Alfisyar berusaha keras membaca gerakan yang akan dilakukan Victoria dengan langkah yang semakin mendekat. Ketika keduanya saling dekat, Victoria memukul serangan tangan. Alfisyar membalas dengan serangan kaki dan disusul pukulan tangan. Itu membuat Victoria terhempas ke belakang.
Refleks, Victoria pun maju dengan jurus harimau membuka jalan, lalu selangkah disusul harimau menutup jalan. Hal itu membuat Alfisyar jatuh terseret hingga keluar garis. Belum juga sempat Alfisyar berdiri, juri sudah menghentikan pertandingan karena waktu ronde kedua telah usai.
Karena perolehan point ronde pertama dimenangkan Victoria, serta ronde berikutnya pun sama, pertandingan partai ke-24 putri babak semi final dimenangkan oleh Victoria. Kemenangannya ini akan membawanya lanjut ke babak Final Kejuaraan Invitasi Silaturahim se-Papua dan Papua Barat tahun 2015. Pertandingan akan berlangsung besok.
Seusai membuka body protector, Victoria mengambil air kemasan yang disediakan untuknya dan berjalan ke arah kontingennya di tribun atas gedung. Ketika berhadapan dengan Alfisyar, Victoria memberi senyum. Sayangnya, Alfisyar malah membuang ludah dan mengenai lengan kiri Victoria.
Victoria mengernyit dan sejenak melihat ludah yang menempel pada bajunya. “Hei! Apa maksudmu?” teriaknya pada Alfisyar sambil berupaya menghentikannya.
“Woi! Kalau sudah kalah terimalah dengan lapang!” teriak seseorang dari tribun kontingen Victoria yang menyaksikan sikap Alfisyar.
Mendengar teriakan itu Alfisyar berbalik ke arah Victoria, tersenyum miring, kemudian membuang wajah.
Victoria pun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju tribun kontingennya.
“Sikapnya tak seindah rupanya,” bisik Victoria dengan perasaan kesal.
“Ke sinilah, Sahabat,” panggil Siti, sahabat Victoria. “Tampaknya kau keturunan pendekar, ya?”
Victoria pun membalasnya dengan senyuman dan memperhatikan lagi lengan bajunya yang terkena ludah.
“Sudahlah, dia hanya iri. Atau mungkin tidak terima karena tingkatannya yang tinggi dapat terkalahkan olehmu,” kata Siti dengan suara lirih.
“Iya. Saya mengerti. Saya ingin pulang dulu mencuci seragam ini. Agar besok bisa dipakai untuk babak final,”
“Nah, kalau begitu kita pulang bersama,” ucap Siti sambil mengajak Victoria bersamanya. Permintaan izin telah disampaikan kepada pelatihnya. Setelah itu keduanya bergegas keluar gedung olahraga yang mendadak terasa pengap.
Ketika berada di luar gedung, seorang anak kecil menghampiri Victoria dan Siti. Anak kecil itu membawa surat berwarna merah hati.
 “Kak, ini ada titipan,” ujar anak kecil yang memakai seragam merah seperti pesilat yang lain, mengulurkan sepucuk surat kepada Victoria.
“Apa ini?” tanya Victoria heran. “Dari siapa, Dik?” lanjutnya. Tapi anak yang menyampaikan surat itu sudah berlari masuk ke dalam gedung.
“Idih, jadi penasaran. Siapa yang menyimpan hati di dalam surat ini padamu?” ujar Siti menggoda Victoria.
“Entahlah, aku asing dengan pengirimnya,” ucapnya sambil memasukkan sepucuk surat itu ke dalam tas.
“Kenapa tidak dibuka? Saya juga penasaran dengan isinya.” ujar Siti lirih.
“Emm... Saya baca di gereja saja sore nanti,” terang Victoria.
“Ya sudah. Ayo kita pulang, agar kau dapat bersiap-siap,” ujar Siti.
Mereka lalu naik angkutan umum menuju panti asuhan, tempat tinggal mereka di Abepura.
***
Sesampainya di halaman panti, Victoria dan Siti menuju ke kamar masing-masing. Meskipun terlihat sangat akrab, Siti dan Victoria tak tinggal satu kamar.
Victoria merasa sangat lelah dan ingin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun dalam situasi seperti itu, Victoria kembali merenungi dirinya, seorang anak yatim piatu asal Serui. Ia harus pindah dan menetap di panti asuhan Muhammadiyah Abepura sejak 7 bulan yang lalu. Selama tinggal di panti, banyak perbedaan yang ia rasakan. Namun perbedaan-perbadaan itu tidak membuatnya kehilangan semangat untuk mendapatkan pendidikan.
“Wah cantiknya,” kata Siti ketika melihat Victoria berjalan menyeberangi halaman panti sore ini. Victoria tahu bahwa Siti menyukai warna rambut dan matanya yang cokelat. “Kamu mau kemana?”
“Saya ke gereja sebentar.”
“Oh, baiklah. Hati-hati,” ucap Siti yang langsung melanjutkan langkahnya ke masjid di area panti.
Gereja Advent yang biasa digunakan Victoria beribadah juga tak jauh dari panti asuhan. Gereja itu berdekatan dengan mesjid Roudhotul Jannah.
Setelah selesai beribadah, Victoria berjalan keluar ruangan dan duduk di bangku panjang di halaman gereja. Diambilnya sepucuk surat yang tadi siang dia terima dari seorang anak kecil. Pelan Victoria membacanya.

Untukmu yang masih asing bagiku. Karenamu, aku jadi merasa akrab dengan yang asing. Aku jadi teringat yang terlupakan. Aku jadi kehilangan pandanganku. Dari seluruh rinduku, ingin kuberikan yang paling biru untukmu.

Berulang Victoria membacanya, belum juga ia memahami maksudnya. Namun ia seolah dituntun oleh ingatan akan sebuah kejadian beberapa hari lalu di Terminal Kampkey, Abepura. Ia bertemu seorang pria asal Sorong, salah satu atlet yang juga ikut dalam pertandingan.
Victoria sempat menolong pria muda itu, yang saat itu tampak kebingungan. Ternyata memang dia tersesat setelah jalan-jalan sendirian mengitari Abepura dan Jayapura. Ia kesulitan menemukan basecampnya di mesjid At-Taqwa, Padang Bulan. Victoria pun mengantarkan pria muda itu ke Padang Bulan yang berjarak cukup jauh dari terminal Kampkey. Anehnya, mereka tidak menanyakan nama masing-masing.
Walau mencoba menahan senyuman, tapi jelas terpancar kebahagiaan di hati Victoria setelah membaca surat dan mengingat kejadian itu. Ia segera memasukkan surat itu ke dalam tas, dan bergegas kembali ke panti.
Sesampainya di panti, Victoria sengaja menemui Siti untuk berbincang-bincang.
“Lain kali jika ada pertandingan se-Papua dan Papua Barat, saya akan ikut.” tutur Siti. “Aku juga ingin merasakan dapat fight di area gelanggang, didukung peserta dari kontingenku. Seperti kau,” lanjut Siti.
“O ya, Victoria. Bagaimana bisa kau begitu cepat belajar silat? Sampai pak Altaf langsung menunjukmu sebagai salah satu atlet yang terpilih.”
Victoria tersenyum. “Dulu, sebelum saya dan Pak Altaf pindah ke sini, saya sering menonton Pak Altaf melatih beberapa muridnya di lapangan depan saya punya rumah. Saat mereka  latihan, masyarakat sekitar lingkungan kami tertarik menontonnya. Karena sering melihat semua latihan itu, saya jadi suka, tertarik mengikuti pencak silat. Karena saya suka, mungkin membuat saya mudah belajar pencak silat,” terang Victoria.
“Pak Altaf sudah lama menjadi tetanggamu?”
“Cukup lama. Sejak saya masih kecil. Karena itu pula saya mau ikut dengan Pak Altaf tinggal di panti ini. Saya masih ingin melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum. Pak Altaf satu-satunya orang yang bersedia dan sanggup menolong saya.”
“Hmm, nasib kita sama, Victoria. Di sinilah harapan masa depan saya. Setelah SMA, saya masih ingin kuliah.”
Lagi-lagi Victoria hanya tersenyum menanggapi perkataan Siti.
“Aku ke mushola dulu, Victoria. Sebentar lagi waktu isya tiba,” tukas Siti mengakhiri perbincangan mereka.
Victoria mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Mendengarkan suara azan, kajian ke-Islam-an, dan semua aktivitas di dalam panti ini bukan hal baru lagi baginya. Dalam semua aktivitas itu juga melibatkan dirinya untuk membantu mengurus santri yang lain.
***
Hari ini babak final. Victoria berkeliling halaman panti selama beberapa kali dengan berlari-lari kecil hingga santri yang lain selesai sholat subuh dan tadarus.
“Wah rajinnya yang mau jadi pendekar,” ujar Siti yang membawa mukenah sambil menggoda Victoria di halaman.
“Kemarilah, kita berlatih sama-sama!” ajak Victoria.
“Baik, siapa takut. Aku simpan mukenah dan Al-Qur’an dulu.”
Keduanya berlatih hingga cahaya mentari mulai menerpa mereka.
Tak disadari oleh Siti dan Victoria, pak Altaf sejak lima belas menit yang lalu mengawasi mereka dari pagar. Ketika mereka berdua akhirnya tahu, latihan berhenti.
“Mengapa berhenti? Lanjutkan,” kata pak Altaf yang ingin terus menyaksikan gerakan Victoria.
Victoria pun menganggukkan kepalanya, dan meneruskan latihannya bersama Siti.
“Jangan terlalu lama diam dan menerka-nerka gerakan lawan, langsung saja serang tiap kali ada kesempatan, Victoria!” teriak pak Altaf mengomentari gerakan Victoria.
Tiba-tiba telepon genggam Pak Altaf berbunyi, dan Pak Altaf segera pergi meninggalkan Victoria dan Siti.
“Victoria, Pak Altaf sudah pergi! Kita berhenti, yuk. Saya capek, nih.” ucap Siti dengan nafas yang tak beraturan.
“O ya, atur nafasmu dulu. Angkat kedua lenganmu ke atas agar paru-parumu terbuka, sehingga tidak sesak,” tutur Victoria sambil mengatur nafas dan mencontohkan gerakannya pada Siti.
Sesudah mengatur nafas, keduanya pun duduk sambil mengeringkan keringat menggunakan handuk. Kulit Victoria yang terkena mentari pagi tampak keemasan. Setelah merasa sudah cukup Victoria dan Siti kembali ke kamar dan melakukan tugas yang telah diagendakan bersama.
Selepas itu, Victoria pun mandi. Ia lalu mengenakan seragam silat dan jilbab hitam yang telah dia cuci kemarin.
“Siti, cepatlah. Pak Altaf dan teman-teman yang lain sudah siap berangkat,” ucap Victoria sambil berdiri di depan pintu kamar Siti.
Ok. Dua menit lagi.”
“Baik, saya tunggu kau bersama yang lain di halaman.”
Victoria langsung menuju halaman depan panti. Setelah Siti datang, semuanya naik mobil Pak Altaf dan berangkat menuju gor. Sepanjang perjalanan Victoria tampak begitu santai.
***
Di GOR sudah banyak pesilat yang datang. Diantaranya dari Sarmi, Manokwari, Sorong, Merauke, Arso, Jayapura, Abepura, Sentani, Koya Barat, dan Koya Timur. Mata Victoria mulai menjuru kesemua sudut, mencari-cari lelaki yang memberinya sepucuk surat.
“Victoria, ayo kita masuk! Pintu gor sudah terbuka,” ucap Siti sambil berteriak mengalahkan suara riuh peserta yang ada di sekitar. Victoria bersama Siti segera menyisip-nyisipkan tubuh mereka di antara kerumunan orang.
Sebelum masuk tribun penonton, Victoria terpana oleh selembar jadwal yang tertempel di depan pintu masuk gor.
“Kau akan main pukul 13.00 wit, Victoria. Banyak menonton pertandingan dari berbagai kontingen tentu akan membuatmu banyak belajar mengenai strategi,” ujar Siti meyakinkan Victoria.
Saat hendak menuju tribun kontingennya, Victoria dipanggil Pak Altaf. Siti yang bagai buntut Victoria selalu mengikutinya dari belakang.
“Tetaplah berada di tribun menyaksikan pertandingan,” kata Pak Altaf. “Lawanmu lagi-lagi berasal dari kontingen Sarmi. Setelah ini kamu makan dulu, tadi Vina mengantar nasi dari panti untuk anak-anak kontingen kita.”
Victoria hanya mengangguk. Tapi sejenak ia sempat meneliti wajah Pak Altaf yang khas Arabia, tampak kurang sehat.
Setelah makan dan menunggu waktu istirahat sholat usai, Victoria tetap duduk di bangku tribun kontingen sambil menyandarkan kepalanya. Tiba-tiba seorang pria muda yang pernah dia temui di Terminal Kampkey menghampirinya.
“Permisi, apa saya menganggu?” tutur lelaki asing itu lirih. Suasana gedung yang tak berisikan banyak orang membuat suara lelaki itu bergema.
“Iya.” ucap Victoria dengan refleks, kaget sambil terbelalak melihat pria itu. Victoria tampak tegang dan tingkahnya tiba-tiba tidak terkontrol.
“Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu. “Maaf, jika saya menganggu. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mengantar saya pulang waktu itu. Perkenalkan, saya Raqif!” ucapnya sembari menjulurkan tangannya ke arah Victoria.
“Victoria Wakum, tapi lebih akrab dipanggil Victoria saja,” ucap Victoria yang langsung menjabat tangan Raqif.
“Sungguh aneh, bukankah kita sudah berbincang-bincang sepanjang perjalan waktu itu. Tapi baru sekarang kita berkenalan,” tutur Raqif.
“O ya, kau tampak lebih anggun dengan jilbab yang kau kenakan. Saya sampai ragu. Khawatir bukan kamu. Maaf, kau terlihat seperti seorang muslimah,” lanjut Raqif yang tersenyum dengan sanjungan yang dia sampaikan.
Victoria berusaha menyembunyikan perasaannya yang gugup dengan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Kau sudah menerima suratku?”
“Ya,” jawab Victoria singkat. Ia merasakan wajahnya menghangat, dan sesuatu yang asing menjalar di sekujur tubuhnya. Victoria langsung menunduk. Sementara Raqif hanya tersenyum.
“Baiklah, aku akan sholat dulu. Sampai jumpa,” ucap Raqif yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Victoria hanya membalas salam Raqif dengan senyuman.
***


Rabu, 13 Juli 2016

Penulis Muda Papua dan Kisah tentang Cenderawasih

https://img.okezone.com/content/2015/12/11/65/1265657/penulis-muda-papua-dan-kisah-tentang-cenderawasih-RabyBQUowA.jpg

JAKARTA - Tahukah mengapa Papua disebut sebagai Bumi Cenderawasih? Alasannya, pulau di ujung timur Indonesia ini menjadi rumah satu-satunya bagi burung cantik, Cenderawasih.
Serupa merak, burung Cenderawasih amat rupawan dengan bulu berwarna-warni. Tidak heran, banyak orang memburu burung langka ini dan merangkai bulunya sebagai aksesoris.
Prihatin dengan kondisi tersebut, siswi kelas XII SMAN 1 Jayapura Elsina Puspitaningrum Salakay pun menuangkan kegelisahannya dalam sebuah cerita pendek (cerpen) berjudul 'Senja Lemakui' yang artinya Senja Pelangi. Karya Elsina mengangkat kearifan lokal ikon Papua yang mulai punah tersebut.
"Banyak orang di daerah saya justru menggunakan burung tersebut demi kesenangan semata. Sementara beberapa misionaris datang ke Papua dan merelakan hidupnya untuk melindungi Cendrawasih," tutur Elsina di Kemdikbud, Jumat (11/12/2015).
Tidak disangka, Senja Lemakui mengantarkan Elsina menjadi juara pertama pada ajang Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI) 2015 kategori cipta cerpen. Putri bungsu dari empat bersaudara ini mengatakan, ide cerita tersebut muncul begitu saja selama proses perlombaan yang dihelat Kemdikbud itu. Pasalnya, Elsina sendiri baru mengetahui tema kearifan lokal baru-baru ini. Meski demikian, cerita yang dia buat diambil dari kisah nyata yang terjadi di daerahnya.
Elsina mengaku, punya hobi menulis sejak sekolah dasar (SD). Kala itu, dirinya sering menulis buku harian karena bukan termasuk anak yang terbuka dengan orang lain.
"Dengan menulis bisa menyampaikan perasaan lewat tulisan. Saya bukan orang yang terbuka dengan orang dan termasuk yang jarang bersosialisasi. Tapi, lewat tulisan saya bisa mencurahkan perasaan," terangnya.
Kendati tertutup, siswa jurusan IPA tersebut aktif di berbagai media sosial. Dia memiliki akun antara lain di Twitter, Facebook, dan Instagram. Bahkan, Elsina sering mengunggah video saat menyanyi di YouTube.
"Memang suka menyanyi, tapi kebanyakan lagu barat," ujar penyuka band The Script itu.
Dilahirkan dari keluarga yang rata-rata berkecimpung di bidang kesehatan membuat Elsina ingin menjadi seorang dokter. Dia berencana mengambil jurusan Kedokteran di Universitas Cendrawasih atau Universitas Dipenogoro (Undip).
"Meski cita-cita jadi dokter tapi akan terus menulis karena menulis kan hobi. Jadi dokter juga enggak melulu sama pasien, jadi masih bisa nulis," ucapnya.
Guna menyalurkan hobinya, Elsina juga bergabung di Sekolah Menulis Papua yang salah satunya diprakarsai oleh Balai Bahasa Provinsi Papua Barat. Pada Oktober lalu, dia juga sempat menjadi juara III lomba menulis di Papua Barat. Elsina mengaku, hadiah senilai Rp5 juta yang didapat dari ARKI 2015 akan ditabung untuk biaya kuliah.
"Orangtua saya tidak pernah menuntut anaknya harus dapat nilai berapa. Kami dilatih untuk belajar secara mandiri, walaupun tetap didampingi orangtua. Hadiah ini akan saya tabung untuk masa depan karena sebentar lagu mau lulus SMA," tukasnya. (ira)

Sumber:  http://news.okezone.com/read/2015/12/11/65/1265657/penulis-muda-papua-dan-kisah-tentang-cenderawasih