Selasa, 12 Juli 2016

Mahkota Raja yang Kini Berlabel Harga (2)



Mahkota Raja yang Kini Berlabel Harga (2)*
Oleh : Abdel Gamel Naser (Aktivis FPPNG)

 

Saya membedah bahwa persoalan mengenai Burung Cenderawasih di Papua ada dua. Persoalan pertama menyangkut populasi yang terancam punah dan kedua mengenai pengakuan dalam tatanan adat.  Dua persoalan ini erat kaitannya dengan semakin terancamnya populasi Burung Cenderawasih. Terdapat 14 genus dengan 43 species Burung Cenderawasih dimana sebagian besar hidup di Papua. Kita hanya tahu jenis yang umum seperti Cenderawasih Kuning atau Paradisea Apoda, Cenderawasih Minor (Lesser Bird of Paradise) yang hanya bisa ditemukan di Papua Barat, Cenderawasih Belah Rotan (Cicinnurus Magnificus) dan Cenderawasih 12 Antera (Seleucidis Melanolevca) padahal ada banyak jenis yang warna dan bentuknya sangat menakjubkan.   
 Soal populasi, ada dua hal yang menjadi biang masalah. Pertama perambahan hutan atau pembukaan lahan dan kedua aktifitas perburuan oleh masyarakat. Dari dua indikator ini, bentuk perambahan atau pembukaan lahan yang memberi dampak besar. Bayangkan saja setiap tahun ada 300.000 Ha hutan di Papua yang rusak yang artinya hilang juga tempat tinggal, tempat makan dan tempat bermain. Pembukaan lahan biasa identik dengan akan dibukanya satu lokasi pemukiman, gedung, jalan atau daerah baru.  
 Burung  Cenderawasih tidak bermain pada sembarang pohon, hanya pohon tertentu yang dipakai untuk bermain, memikat sang betina kemudian kawin dan berkembang. Nah bila semua tempat di atas hilang maka Cenderawasih akan terus berpindah mencari tempat yang menyediakan makanan.  Tak hanya itu, burung yang elok dalam lengkingan suaranya ini juga hanya bertelur 2 butir dan tak jarang hanya sebutir tiap tahunnya sehingga bisa dibayangkan tingkat kemungkinan hidupnya. Situasi tersebut mirip penyu yang menelurkan puluhan bahkan ratusan telur namun yang bisa bertahan hidup tak lebih dari 10 ekor.
 Ibarat manusia yang ditempatkan disebuah lokasi yang tak ada tempat untuk beristirahat dan untuk mencari makan maka lama kelamaan akan mati dengan sendirinya. Begitu juga dengan burung Cenderawasih dan beberapa jenis burung endemik lainnya yang telah berlabel dilindungi.  Untuk persoalan perambahan ini kembali pada penataan daerah atau  yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sebelum dilakukan pembukaan lahan, pemerintah perlu meminta masukan atau kajian tak hanya dari akademisi antropolog mengenai kondisi daerah, namun juga harus melibatkan para tokoh adat mengenai kawasan yang memang dilindungi karena menjadi tempat berkembangbiak hewan dilindungi.
 Dari data tersebut paling tidak pembukaan lahan tidak harus mengorbankan daerah yang memang harus diproteksi. Toh pengalihfungsian lahan jika itu untuk daerah baru ataupun lokasi perumahan tetap perlu melekatkan 30 persen dari seluruh luasan daerah untuk daerah terbuka hijau. Hutan Papua wajib dijaga sebab kondisi hutan Sumatera dan Kalimantan kini tak sebaik hutan Papua, pembukaan lahan kelapa sawit dan lahan gambut memberi dampak kerusakan yang kini sulit diperbaiki dan membutuhkan dana yang tak sedikit untuk mengembalikan kondisinya. Artinya, selain Brazil, hutan Papua menjadi satu-satunya paru-paru dunia.
Masih terkait indikator yang mengancam populasi Burung Cenderawasih. Persoalan kedua dari masalah populasi adalah perburuan. Saat ini banyak masyarakat lokal yang tinggal di kampung yang masih bergantung pada hasil perburuan. Apapun hasil buruan yang bisa mendatangkan uang, pasti dilakukan. Nah pandangan ini yang tidak tepat sebab ada sejumlah hewan dilindungi yang tak boleh diburu dan ditembak termasuk untuk diperjualbelikan. Ini tertuang dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
 Undang-undang ini menyebutkan sanksi pidana 5 tahun dan denda Rp 100 juta bagi setiap orang yang tanpa ijin menangkap, mengambil, merusak, memusnahkan, membunuh, menyimpan, memiliki atau memelihara dan memperdagangkan dalam keadaan hidup ataupun mati.
 Undang-undang ini tak sekedar mengatur tentang Burung Cenderawasih tetapi juga Burung Kakak Tua Raja, Kus-kus, Burung Nuri Bayan, Burung Kakak Tua Jambul Kuning, Burung Mambruk, Burung kasuari, penyu sisik, Burung Nuri Kepala Hitam, Burung Rangkong Papua hingga pohon anggrek keriting  Papua. Kalaupun ingin memanfaatkan salah satu di atas wajib mengantongi ijin dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua. Namun yang terjadi, aturan tinggal aturan. Belum ada konsekwensi hukum yang tegas selain penyitaan hingga berujung pemidanaan.
 Alhasil masyarakat dengan leluasa memperjualbelikan secara  terbuka bahkan pejabat daerah yang seharusnya memberi contoh justru ikut menjadi pelaku karena ikut memelihara meski paham konsekwensinya. Begitu juga dengan aparat atau dinas terkait yang terkesan lemah dalam pengawasan maupun penindakan. Saya ingat ibu Menteri Siti Nurhaya Bakar sejatinya pernah mendorong isu ini dengan mempopulerkan #savejambulkuning atau upaya proteksi untuk burung kakak tua jambul kuning setelah terungkap puluhan burung kakak tua jambul kuning berhasil diselundupkan ke Jakarta.
 Seharusnya isu ini dikembangkan tak sebatas jambul kuning karena 14 April lalu di Surabaya juga diungkap penyelundupan Burung Cenderawasih berbagai jenis dalam keadaan mati. Ini menggambarkan lemahnya pengawasan dan perlu upaya lebih untuk memproteksi hewan yang hampir punah seperti kasuari, kakak tua raja, rangkong Papua dan kus-kus juga mengalami hal serupa. Sering sekali melihat postingan di jejaring sosial maupun dikirim oleh teman terkait bangkai-bangkai Burung Cenderawasih dengan bulu yang indah dijejer di lapak-lapak kaki lima dengan harga beragam. Ada yang di Polimak, di Pasar Sentani hingga terlihat menyolok di Bandara Sentani hingga Sarmi dengan harga mulai Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta.  Harga ini sama dengan harga Mahkota Cenderawasih yang dijual dengan cara pesanan khusus. Ya, mahkota raja kini berlabel harga. Terlalu murah untuk sebuah pengakuan adat. Jika  di Tidore, Ternate ada sorban dan potongan rambut Sultan Tidore yang terus memanjang dan hanya bisa dilihat di museum, apakah Mahkota Cenderawasih di Papua  tak bisa dibuat sama. Hanya bisa dilihat di rumah atau kediaman Ondoafi. Jadi siapapun yang ingin melihat mahkota kebesaran sang raja, harus mendatangi rumah Ondoafi sehingga dengan sendirinya pengakuan adat ini benar-benar memiliki keistimewaan karena tak bisa dilihat di pasar-pasar, di pelataran bandara, maupun dijual mirip pedagang asongan yang ditenteng kesana kemari. Mahkota raja hanya bisa dilihat dengan mendatangi rumah Ondoafi.
  Kembali menilik bunyi undang-undang nomor 5 tahun 1990 yang menyebutkan bahwa dilarang memperdagangkan dalam keadaan hidup ataupun mati. Bila tegas, tentunya ini wajib ditindak. Termasuk menelusuri keterlibatan oknum aparat yang diduga bertindak sebagai pemesan. Seorang sahabat dari Kabupaten Sarmi menceritakan bahwa masih banyak bentuk perburuan yang disponsori hanya dengan teh gula maupun minyak untuk masuk ke hutan, hasilnya akan dibeli. Perburuan ini sering dilakukan diam-diam dan akhirnya bisa bebas keluar dari Papua menggunakan kapal.
 Sekarang bayangkan bila dalam sehari ada 50-100 ekor burung Cenderawasih dan hewan dilindungi lainnya tertangkap maka beberapa tahun ke depan tentu akan punah. Kadang ada pembelaan diri dari mereka yang menangkap dan memelihara dimana dikatakan bahwa burung tersebut justru lebih senang tinggal di sangkar karena dipelihara dan diberi makanan yang enak dan tak perlu mencari makan lagi. Diberi susu, pisang, pepaya hingga dedaunan yang tak pernah dimakan. Pandangan ini tentu tidak tepat sebab Tuhan sudah menempatkan mereka untuk hidup di rumah mereka sendiri yakni hutan sesuai dengan habitatnya, bukan di sangkar.
 Begitu juga dengan jenis makanan yang diberikan yang sejatinya tak pernah diperoleh di hutan. Publik harus memahami jika saat ini posisi Burung Cenderawasih dan lainnya sedang terancam akibat perambahan hutan dan perburuan tadi. Yang tak kalah pentingnya adalah ketika habitat hilang atau terganggu maka keberadaan burung Cenderawasih juga akan hilang. Kalimatnya antara habitat dan populasi merupakan satu ikatan yang tak bisa dipisahkan. Hutan rusak, Cenderawasih hilang. Seorang tour guide lokal bernama Jamil dari Nimbokrang memberi saya cerita berharga. Ia mengatakan bila menemukan burung Taun-taun atau yang dikenal dengan burung Rangkong sendiri di hutan  maka hanya pernah menangkap atau membunuhnya, sebab burung ini selalu hidup berpasang-pasangan. Ia akan hidup dengan betinanya hingga mati sebab burung ini dikenal paling setia.
 Tugas sang jantan adalah mencari makan untuk sang betina yang menjaga  anaknya di dalam lubang pohon. Bila sang jantan ditangkap dan dibunuh, sama artinya jenis betina dan anak-anaknya akan kelaparan.  Jamil bersama rekannya Alex Waisimon kini menjaga satu spot eko tourism di Kampung Rhepang Muaif Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura. Dilokasi ini masih bisa ditemukan berbagai jenis burung Cenderawasih termasuk kakak tua Jambul Kuning karena ada kesepakatan sesama masyarakat kampung untuk tidak dilakukan perburuan.
 Sementara bila  menyimak cerita rakyat mengenai pengenaan Cenderawasih di kelapa disebutkan bahwa Cenderawasih suatu saat kelak memang akan menghiasi kepala-kepala penari dan bila dilihat kondisi saat ini memang sesuai dengan cerita rakyat tersebut dimana banyak penari yang menggunakan mahkota Cenderawasih. Yang bisa jika digarisbawahi adalah kondisi tersebut bisa dianggap layak bila populasinya masih stabil alias aman. Namun yang terjadi saat ini baik 50 atau 100 hektar tanah di Papua belum tentu bisa menyaksikan seekorpun sehingga tak lagi relevan untuk dipakai mengihasi kepala penari karena jumlahnya terus menurun. Bila tetap dipertahankan maka Cenderawasih semakin terancam.
 Dampak lain yang bisa mempengaruhi penilaian orang adalah bila ini terus dipakai oleh sembarang orang maka mereka yang tak paham soal filosofi adat maupun ancaman kepunahan bisa menganggap bahwa mahkota tersebut bisa dan layak dikenakan oleh siapa saja apalagi  kebanyakan orang bila sudah mengenakan mahkota biasanya akan meminta dipotret untuk diposting. Nah mereka yang melihat ini bisa saja menganggap bahwa suatu saat bila mereka di Papua ingin mencari mahkota Cenderawasih dan melakukan hal serupa. Solusi yang bisa dipakai dari kondisi ini adalah masing-masing kampung menanamkan komitmennya untuk menjadikan areal habitat burung Cenderawasih menjadi daerah yang steril dan dilarang dilakukan perburuan. Lokasi tersebut bisa juga dikemas menjadi eko tourism yang dikelola masyarakat  kampung setempat untuk mendapatkan income. Ini sejatinya sudah dilakukan oleh salah satu kelompok masyarakat di Puai Kabupaten Jayapura yang menolak dilakukan perburuan di lokasi Lapangan Katak karena menjadi rumah besar burung Cenderawasih dan hewan endemik lainnya. Ending dari komitmen tersebut adalah lahirnya peraturan kampung atau Perkam yang dijadikan landasan untuk menolak perburuan dan tetap menjaga habitatnya. Kalaupun akan menggunakan mahkota Cenderawasih maka buatlah yang imitasi. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ditantang untuk menjawab ini dan bukan sekedar membuat event yang wah namun tak banyak memberi dampak.   
 Saya pribadi memberi apresiasi atas sikap yang ditunjukkan Konsultan Pariwisata Papua, Jackeline Papodi Galatang dan duta wisata Papua, Ribka Yoku  yang berani keluar dari panitia penjemputan Presiden Jokowi April kemarin.  Keputusan ini diambil lantaran panitia penjemputan akan menyerahkan mahkota Cenderawasih kepada Presiden. Karena bertolak belakang dengan status sebagai duta wisata sehingga keduanya sepakat keluar. Begitu juga dengan kegiatan modeling di Swisbell Hotel beberapa hari lalu yang diputuskan untuk tak diikuti karena banyak yang akan menggunakan mahkota tersebut.
 Sudah saatnya menumbuhkan kesadaran dari tingkat terkecil yakni kampung. Bila masyarakat kampung sadar, Insya Allah keberadaan Cenderawasih akan terus ada dan bukan lagi sekedar disaksikan di dalam pigura kaca. Para pejabat daerah juga harus sadar bahwa ada contoh yang kurang tepat ditunjukkan selama ini. (*)

* Artikel ini telah didiskusikan dalam Kafe Sastra Sekolah Menulis Papua dengan tema "Sastra dan Lingkungan Hidup: Meretas Surga yang Hilang untuk Cenderawasih", tanggal 10 Juli 2016 di Grand Abe Hotel Abepura, Papua. 

Mahkota Raja yang Kini Berlabel Harga (1)



Mahkota Raja yang Kini Berlabel Harga*
Oleh : Abdel Gamel Naser (Aktivis Forum Peduli Port Numbay Green)



HENING
Hening kebodohan memperlihatkan kecerdasan yang menjauh.
Bangkai-bangkai Cenderawasih menghiasi kepunahan di kepala manusia.
Masih adakah keangkuhan dari dekap kesadaran orang orang Papua yang tersisa ?
Ataukah kebodohan ini akan tetap terjaga lestari hingga kita menyadari betapa getirnya keprihatinan di bumi Papua ?
Igir Al, Qatiri

Secuil potongan puisi yang dilantunkan seorang penyair Papua, Igir Al Qatiri tentang kondisi burung Cenderawasih saat ini. Status terancam punah membuat pria nyentrik ini menorehkan buah pikirannya untuk mengingatkan Papua bahwa ada kebanggaan yang terancam hilang. Kebanggaan yang sewaktu-waktu hanya bisa disaksikan di TV maupun dalam bentuk mati dalam pigura kaca. Tak dipungkiri jika kita ditanya soal kebanggaan Papua maka satu persatu akan menepuk dada mengatakan bahwa burung Cenderawasih masih menjadi burung yang membanggakan.
Lihat saja beberapa nama lembaga, komunitas, perusahaan, bahkan nama gedung ataupun nama ruangan hotel yang melekatkan sebutan Cenderawasih. Tak hanya itu ornamen Papua yang tak hanya dalam bentuk pahatan batu pada tembok, kayu tetapi juga melekat pada kain baik untuk pakaian dinas maupun pakaian sekolah juga menonjolkan sosok burung yang pernah disebut burung tanpa kaki ini.
            Semua terlihat bangga dan ingin dianggap membumi. Namun dari semua kebanggaan di atas apa yang sudah dibuat orang-orang di Papua untuk pelestariannya?, apa yang sudah dibuat penegak hukum di Papua untuk konsekuensi hukumnya?, apa yang sudah dilakukan pejabat di Papua jika tak ada bentuk proteksi, pelestarian atau perlindungan bahkan penegakan hukum yang diterapkan. Bahkan pejabat sekalipun bisa disebut sebagai aktor di balik tak mulusnya pelestarian Burung Cenderawasih karena masih ada yang mempersempit kandang luas mereka di hutan menjadi kandang mungil di teras. 
            Bila hanya menyampaikan bentuk kepedulian tentu semua bisa menyatakan “kami peduli”, namun yang jadi pertanyaan, dalam bentuk apa?  Sementara populasinya kian terancam. Kepedulian yang bagaimana yang bisa dipakai untuk menyelamatkan satu kebanggaan tadi? “Kecerdasan yang menjauh, kepunahan di kepala manusia, adakah kesadaran yang tersisa dari getirnya keprihatinan di bumi Papua”. Potongan-potongan puisi di atas menunjukkan kegalauan seorang pemuda dan bentuk protes dengan gaya yang sedikit menohok.
            Sedikit mengulas beberapa sikap tak bijak yang terjadi terkait populasi yang semakin terancam. Penjemputan yang ramah di bandara, tarian penyambutan tamu hingga pengalungan bunga sejatinya merupakan bentuk penghormatan terhadap tamu besar yang datang ke Papua. Kiranya ini cukup untuk menunjukkan sebuah tanda hormat yang tak berlebihan. Namun belakangan ini kondisi tersebut dirasa belum cukup. Tamu penuh hormat ini juga diberikan penyematan mahkota Burung Cenderawasih. Sebuah mahkota yang sejatinya dalam adat di Papua memiliki kesakralan dan tidak laik dikenakan kepada sembarangan orang.
 Di Papua, mahkota ini hanya laik dikenakan oleh seorang pria sebagai bentuk ketokohan atau seorang pemimpin yang memiliki wibawa dan dihormati rakyatnya. Namun juga tak semua pria laik menggunakannya sebab dari pengakuan yang tak tertulis, hanya Ondoafi atau Ondofolo untuk daerah pesisir dan kepala suku untuk daerah pegununganlah yang boleh mengenakan Mahkota Cenderawasih. Namun yang terjadi saat ini, satu pejabat datang dari luar Papua kerap diberikan mahkota kebanggaan Papua.
 Padahal entah apa yang sudah diberikan untuk Papua. Kita juga tak tahu apakah pejabat tersebut adalah pejabat yang bersih atau justru sebaliknya, pelaku korupsi. Wajah “pelecehan” dan kekonyolan ini sering sekali ditunjukkan  oleh mereka yang mengaku sebagai panitia penjemputan. Ya, saya menganggap itu sebuah kekonyolan sebab mereka yang datang tak tahu apa makna dari mahkota kebesaran milik Ondoafi atau kepala suku tersebut. Mereka buta soal itu. Mereka juga tak meminta atau memesan itu sebelumnya. Bahkan tanpa disematkan mahkota Burung Cenderawasih mereka tetap tersenyum dan berharap kedatangan mereka diterima dengan baik.
 Dari ketidakpahaman ini seharusnya  kita yang di Papua bisa lebih bijak dalam memberikan sesuatu yang memiliki makna kesakralan tadi dengan tidak memberikan kepada setiap tamu besar yang datang atau ekstrimnya, melacurkan!  Beberapa tokoh adat (Ondoafi) termasuk kepada daerah, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan aktifis lingkungan serta pemerhati lingkungan yang saya tanyakan tentang ini mengutarakan hal yang sama, bahwa mahkota Cenderawasih sejatinya hanya layak digunakan oleh seorang Ondoafi. Jadi pendapat saya di atas tetap memiliki dasar.
 Aturan ini memang tak tertulis namun tersirat dalam bentuk pengakuan adat yang mengartikan bahwa Mahkota Cenderawasih memiliki filosofi yang mencerminkan sosok pemimpin yang diagungkan oleh masyarakatnya. Ini menjadi budaya yang tertanam secara turun temurun dan sangat jelas disebutkan bahwa siapa yang melupakan budayanya maka ia telah kehilangan jadi dirinya. Perlu kita sepakati bahwa ketika tiga pilar pembangunan, Pemerintah, Adat, Agama mulai mengenyampingkan adat dimana adat hanya hadir sebagai pemadam kebakaran, maka kita perlu menjunjung tinggi dan memberikan pengakuan mengenai kebanggaan seorang Ondoafi, yakni Mahkota Cenderawasih.
 Mungkin hanya itu yang bisa mereka banggakan. Menjadi raja di tengah masyarakatnya.  Yang terjadi saat ini bila saja dalam sebulan ada 10 pejabat penting  yang datang dan diberikan 10 mahkota Burung Cenderawasih yang artinya esoknya akan dilakukan perburuan Burung Cenderawasih lagi karena pesanan panitia penerima tamu. Sejatinya masih banyak benda etnik Papua yang mewakili bentuk kehormatan tadi. Noken yang telah diakui Uncesco sebagai warisan dunia kategori budaya tak benda.
 Mengapa bukan ini saja yang diberikan karena dengan sendirinya kita dan mama-mama perajut Noken akan ikut bangga dan senang karena buah tangannya dihargai dan dipakai oleh pejabat negara dan dampaknya temtu ada pendapatan ekonomi yang dimiliki. Mahkota Cenderawasih belakangan ini juga menjadi barang murah dan mudah diperoleh dan terkesan mulai dilecehkan oleh siapa saja, termasuk wanita yang konon “haram” menggunakan ini. Sekretaris Lembaga Masyarakat Adat Papua, Paskalis Netep pernah  menyampaikan bahwa  bila ada seorang wanita yang menggunakan ini dan ada masyarakat adat yang menggerutu melihat itu maka wanita yang menggunakannya bisa menjadi wanita murahan. Meski sulit diterima akal sehat paling tidak penyampaian ini terlontar dari bibir orang yang berkompeten. Tak hanya itu mahkota  raja ini juga kerap dipakai untuk komoditi politik yang tak ada kaitannya dengan adat maupun budaya di Papua hanya untuk mengantongi predikat “pengakuan”. Diakui sebagai anak adat maupun diakui sebagai  orang Papua.
 Para penari tradisional juga dengan begitu mudah menggunakan mahkota tersebut hanya untuk dianggap cantik, eksotik dan bangga dengan adat sendiri padahal jika dikaitkan dengan tatanan adat tentu secara tidak langsung telah melecehkan apa yang telah diatur oleh adat. Bahkan perempuan yang bukan orang asli Papua juga banyak yang menggunakan ini. Termasuk istri pejabat yang ikut-ikutan memamerkan ketidakpahaman mereka.(bersambung)

* Artikel ini telah didiskusikan dalam Kafe Sastra Sekolah Menulis Papua, 10 Juli 2016 di Grand Abe Hotel, Abepura Papua. 
 

Rabu, 15 Juni 2016

Sekolah Menulis Papua Gelar Kafe Sastra



JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Sekolah Menulis Papua (SMP) menggelar diskusi dengan menyajikan karya fotografi dan karya  sastra yang bertemu dalam acara Kafe Sastra dengan tema percumbuhan sastra dan fotografi sekaligus buka pusa bersama.
     

Burhanudin, kepala Sekolah Menulis Papua dalam sambutanya mengatakan, SMP itu sebutan akrab dari para pecinta sastra di Kota Jayapura yang artinya  (Sekolah Menulis Papua) dengan moto Menulis Papua Membaca Dunia. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Grand Abe, Abepura, Jayapura, Papua, Minggu (12/6/2016).
     “Dunia menulis dan membaca belum menjadi prioritas di tanah Papua. Kegiatan kami hari ini dengan tema percumbuhan sastra dan fotografi. Ini  sebagai bentuk kepedulian kami dalam dunia sastra untuk bagaimana kami memberi suport kepada para seniman baik yang bergelut dalam dunia foto dan sastra,” kata Burhanudin.
     Menurutnya, SMP lebih fokus kepada generasi muda di Papua yang sangat dan ingin untuk menulis. Jadi SMP hadir untuk membimbing anak-anak muda Papua yang memiliki bakat menulis.
    “Kami sangat  (konsen untuk) membantu dan membimbing teman-teman yang ingin menulis,” kata Burhan.
     Sementara itu, John S. Rogi, fotografer dari komunitas Balobe fotografi Papua yang hadir sebagai narasumber, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan saat ini (kemarin, 12/6/2016).
     “Saya sangat mengapresiasi kegiatan hari ini. Saya sempat keget dengan judul di atas ada kata percumbuan, padahal yang bercumbu adalah foto dan tulisan,” ucap Rogi.
     Rogi menambahkan, pertemuan antara foto dan sastra memanglah sesuatu yang sangat unik apalagi sebuah  foto yang akan dihiasi oleh kata-kata.
    Narasumber yang hadir dalam diskusi ini adalah, John S Rogi Fotografer Papua, Lie Tangkepayung fotografer alam Papua,   Dzikry El Han penulis dan pegiat literasi di Papua, Sriyono, S. S., Peneliti Sastra Papua, Igir Al Qatiri, Penyair Papua. Hadir juga komunitas Sastra Papua, komunitas Balobe Fotografi Papua, dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Sekolah Menulis Papua (SMP) dan simpatisan baik dalam dunia sastra dan fotogtafi di papua.

Penulis: Arnold Belau, Pewarta: Harun Rumbarar, sumber: http://suarapapua.com/2016/06/13/sekolah-menulis-papua-gelar-kafe-sastra/

Kafe Sastra: Percumbuan Sastra dan Fotografi

Jayapura, Jubi – Apa yang dilakukan olehnya sebuah bangku di sudut Harlem, selain menanti hari yang berganti mengamati pucuk-pucuk awan dari sudutnya berdiri?
     Demikian penggalan puisi yang dihimpun Komunitas Sekolah Menulis Papua dan dibacakan dalam diskusi Kafe Sastra bertajuk “Percumbuan Sastra dan Fotografi” yang digelar di hotel Grand Abe, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Minggu petang, 12 Juni 2016.
 
     Sriyono, dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, salah satu narasumber dalam diskusi itu membawakannya dengan khidmat. Diiringi musik instrumen. Suasana sunyi.

Pemberian cenderamata oleh Kepala Sekolah Menulis Papua, Burhanuddin kepada salah satu naramber, Lie Tangkepayung usai diskusi Kafe Sastra “Percumbuan Sastra dan Fotografi” di Grand Abe Hotel, Distrik Abepura, Minggu petang – Jubi/Timo Marten


     “Kekuatan puisi ada pada kepadatan kata. Satu kata mewakili banyak hal. Oleh karena itu, wajib menguasai kosakata,” katanya.
     “Puisi tidak sekadar keindahan pada kata-kata. Puisi merupakan tone; nada. Gunakan bahasa metafora, dan jangan yang vulgar,” lanjutnya.
     Puisi yang dibawakannya itu menceritakan tentang sebuah bangku tua di bawah pohon, suatu senja di pantai Harlem, Kabupaten Jayapura.
      Karya-karya fotografi milik John dari Komunitas Fotografi Balobe akhirnya menginspirasi banyak penyair Sekolah Menulis Papua untuk menuliskan puisi-puisinya yang akan diterbitkan Juli mendatang. Salah satunya sajak bangku tua, karya Stebby Julionatan, yang diinspirasi foto karya John Steven Rogi dari komunitas Balobe.
     “Bangku di sudut Harlem//takkan pernah jadi kapal yang membawamu menyeberangi pulau-pulau//takkan pernah jadi lemari yang menampung jubah-jubah pelayananmu…”
John Steven Rogi, dari Komunitas Fotografi Balobe yang sepuluh fotonya menginspirasi penyair-penyair tersebut mengatakan dirinya mau memperkenalkan Papua ke dunia luar melalui gambar/foto.
     “Papua punya tempat yang indah dan banyak. Mari kitorang jaga,” katanya.
Ia mengaku tertarik dengan fotografi sebab fotografi merupakan kesenian, unik dan mengutamakan rasa manusia.
     Hal itu diakui salah satu narasumber dalam diskusi tersebut, Lie Tangkepayung. Lie berpendapat semua orang bisa memotret, tapi tidak semua orang disebut fotografer.
     “Standar menilai foto bagus atau tidak, kembali ke tujuan foto itu. Semua orang bisa memotret, tapi tidak semua orang disebut fotografer,” kata Lie.
     Pendiri komunitas Fotografi Balobe, Soni Wanda mengatakan fotografi di Papua selama sepuluh tahun terakhir mengalami perkembangan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memperkenalkan Papua ke dunia melalui foto-foto yang bercerita.
    “Banyak istilah fotografi pakai kata asing, tapi kami pakai sebutan yang lokal: Balebo (berburu/mencari ikan) biar lebih akrab dengan konteks Papua,” katanya.

Percumbuan Sastra dan Fotografi: Ajakan Mencintai Literasi
    Fotografi dalam pengertian umum berarti seni dan penghasilan gambar dan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan. Dalam bahasa Yunani Photo (cahaya) dan grapho (melukis). Melukis dengan cahaya.
    Sastra sebagai ungkapan perasaan yang jujur tentang keindahan melalui kata-kata, seperti puisi, prosa dan drama. Dalam karya sastra terkandung unsur kebenaran, keindahan dan kejujuran.
Penulis novel “Cinta Putih di Bumi Papua” yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut mengatakan fotografi dan sastra sama-sama menampilkan keindahan dan pesan moral.
    “Sastra juga begitu. Menceritakan tentang kehidupan manusia,” katanya.
Kepala Sekolah Menulis Papua, Burhanuddin mengatakan pihaknya berupaya memperkenalkan sastra secara luas, tidak hanya melalui keindahan kata-kata, tetapi juga melalui musik dan fotografi.
    “Sastra juga bisa disandingkan dengan musik, fotografi, isu lingkungan hidup, bahkan kita juga angkat tema tentang pendidikan karakter,” katanya.
Ia bahkan mengharapkan diskusi yang digelar pihaknya dengan menghadirkan penikmat sastra, jurnalis, penyair, fotografer dan peserta lainnya itu menginspirasi masyarakat Papua untuk semakin mencintai budaya literasi. (*) (Sumber: http://tabloidjubi.com/2016/06/13/kafe-sastra-percumbuan-sastra-dan-fotografi/)

Jumat, 10 Juni 2016

Profil Sekolah Menulis Papua



  
Sekolah Menulis Papua (SMP) adalah sebuah komunitas menulis independen yang didirikan pada 13 Januari 2014 oleh tiga orang yang bergiat di dunia literasi, yaitu: Burhanudin, seorang fasilitator di bidang kesejahteraan sosial, Dzikry el Han, penulis, dan Fathul Qorib, jurnalis yang bekerja sebagai wartawan di Harian Cenderawasih Pos, Jayapura. SMP dibuka untuk siapa saja, tanpa dipungut biaya apa pun.
Ide dasar mendirikan SMP adalah kegelisahan kami bertiga terhadap kondisi literasi di Papua, khususnya di Jayapura, yang bisa dibilang berjarak cukup jauh dari wilayah-wilayah lain di Indonesia. Padahal di wilayah lain itupun, kondisi literasi belum mencapai tahap yang diharapkan. Selain itu, Sekolah Menulis Papua juga berupaya mewadahi generasi muda di Jayapura yang memiliki kesenangan menulis, tetapi belum menemukan lingkungan yang cocok untuk menumbuhkan kreatifitas mereka.  Dalam hal ini SMP menetapkan visinya “Terwujudnya masyarakat Papua yang gemar membaca dan menulis”. Adapun motto komunitas ini adalah “menulis Papua membaca dunia”.
Untuk mewujudkan visi ini, SMP mengagendakan misinya sebagai berikut:
  1. Menumbuhkan komunitas pecinta literasi (aktivitas membaca dan menulis) di sekolah dan perguruan tinggi di Papua.
  2. Menggerakkan kegiatan literasi di kalangan masyarakat Papua melalui diskusi, bedah buku, workshop  kepenulisan dan festival literasi.
  3. Menerbitkan karya tulis sahabat Sekolah Menulis Papua dalam bentuk buku dan media online.
  4. Mengkaji budaya dan kondisi sosial masyarakat Papua sebagai tema dan latar kepenulisan di SMP.
 Dari sisi keanggotaan, SMP terdiri dari siswa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum, mahasiswa berbagai Perguruan Tinggi di Jayapura, dan umum. motion.jpgHingga saat ini, anggota SMP yang aktif mengikuti diskusi reguler berjumlah sekitar dua puluh orang.
Dari sisi kepengelolaan, dalam kesehariannya SMP dijalankan oleh pengurus harian dengan susunan sebagai berikut:
  1. Kepala SMP: Burhanudin, S.Th.I, MA 
  2. Sekretaris I: Rahmaniyatun Nisaa Bauw
  3. Sekretaris II: Daymen Sofia Yepasedanya                 
  4. Bendahara: Arum Endah Hudayanti              
  5. Koordinator Divisi Penelitian dan Pengembangan: Dzikry el Han dan Julia F. Matondang
  6. Koordinator Divisi Pelatihan: Siti Nurhidayati           
  7. Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat dan Penerbitan: M. Rizal Kurniawan
  8. Koordinator Divisi Perfilman: Baiq Pratiwi   
           Untuk melaksanakan seluruh kegiatan ini SMP mengandalkan dana swadaya yang berasal dari pengurus, anggota, dan simpatisan kegiatan literasi di Papua. Di samping itu, dalam kegiatan tertentu SMP mengajukan proposal kepada sejumlah perusahaan untuk menyalurkan sebagian dana CSR mereka untuk kegiatan SMP. Beberapa perusahaan yang pernah memberikan dana kepada SMP antara lain Indosat, Telkomsel, dan United Tractor. Adapun lembaga pemerintah yang selalu mendukung kegiatan SMP adalah Balai Bahasa Provinsi Papua dengan menyediakan ruangan untuk kegiatan secara gratis. Sebagai informasi, seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh SMP dilakukan secara cuma-cuma tanpa memungut biaya. Kegiatan SMP dilaksanakan dengan semangat kesukarelaan, lebih baik memberi dari pada menerima.